Seringkali dalam sebuah pertempuran untuk memenangkan pemilihan di suatu daerah menjelang pilkada diawali dahulu dengan perang opini, untuk menguatkan posisi dalam peperangan yang sesungguhnya. Maka terlihat dalam perang tersebut Sebuah kelompok mengklaim bahwa dia telah mendapatkan dukungan sekian persen suara, kelompok yang lain juga melakukan hal yang sama, hal ini mereka lakukan untuk mengimbangi atau memberi perlawanan terhadap lawan politiknya.
Dengan memenangkan perang opini diharapkan bisa memuluskan salah satu pasangan calon kepala daerah menuju kursi kepemimpinan. Demikian juga dalam dunia bisnis kita sering melihat budget iklan yang dikeluarkan oleh produsen dengan biaya yang luar biasa hanya sekedar menempatkan opini produknya lekat dalam ingatan konsumen, sehingga yang teringat di benak konsumen kalau air mineral ya produk A, kalau restoran cepat saji ya merk B dan lain sebagainya .
Dengan demikian perang opini bukanlah merupakan awal dari sebuah peperangan melainkan inti dari sebuah persaingan untuk menjadi yang terbaik dimata publik atau pelanggan. Ketika seseorang telah menang dalam sebuah perang opini maka tinggal selangkah lagi untuk menjadi pemenang yang sesungguhnya.
Dalam kehidupan skala kecil juga bisa kita jumpai perang opini tersebut berlangsung, dalam keluarga, dalam masyarakat di tigkat RT, RW juga kita rasakan, namun kita harus bijaksana dalam menghadapinya karena hidup tanpa opini dan persaingan alangkah hampanya, salam.