Warning: array_map() [function.array-map]: Argument #2 should be an array in /home1/eks10000/public_html/wp-content/plugins/yet-another-related-posts-plugin/magic.php on line 287
Warning: join() [function.join]: Invalid arguments passed in /home1/eks10000/public_html/wp-content/plugins/yet-another-related-posts-plugin/magic.php on line 27
Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home1/eks10000/public_html/wp-content/plugins/yet-another-related-posts-plugin/magic.php on line 54
Salah satu tokoh pimpinan partai besar dalam berkampanye mengatakan apa arti Rp.200.000,- bila harus mempertaruhkan harga diri, dengan perkataan seperti itu seolah-olah dia ingin menyadarkan masyarakat akan harga diri tapi dibalik itu merupakan ketidaktahuan elit politik terhadap kondisi riil masyarakat kecil dan itu adalah sebuah Ketidakpekaan berpolitik. Mereka mengukur segala sesuatu dengan diri mereka sendiri yang notabene berkecukupan di sepanjang hidupnya tentu saja dia memandang Rp.200.000,- sebagai sesuatu yang tiada artinya sungguh ketidakpekaan yang luar biasa.
Mereka tidak pernah merasakan bahkan membayangkan pun tidak kalau seorang buruh Tani bekerja seharian bergelut dengan Lumpur sawah hanya dibayar Rp. 50.000,- mereka tidak pernah terlintas dalam benaknya kalau seorang tukang becak untuk mendapatkan Rp. 50.000,- harus bermandikan peluh dan sengatan panasnya matahari sehingga BLT Rp. 200.000,- tentunya sangat berharga bagi rakyat kecil untuk sekedar menyambung hiidupnya dari kesulitan yang selalu mengakrabinya, Kalau ada seorang Tokoh bahkan nantinya akan mencalonkan diri sebagai presiden mengatakan apalah artinya uang Rp. 200.000,- bagi rakyat kecil, ini jelas calon presiden yang tidak layak kita pilih dan hanya orang-orarng bingung saja yang mau memilhnya.
Kalau ada partai atau politikus yang mengklaim bahwa sangat peduli dengan masyarakat kecil akan tetapi mereka bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi di masyarakat grassrot yang sesungguhnya berarti bukanlah partai yang cocok bagi wong cilik partai tersebut lebih pas dikatakan partainya para petualang politik yang sebenarnya dia mencari sesuatu dengan berpolitik.
Saling serang yang dilakukan para elit politik dalam berkampanye merupakan sesuatu yang biasa terjadi dalam dunia politik, tapi sebenarnya masyarakat tidak butuh itu pada saat ini, yang dbutuhkan masyarakat adalah tipe tokoh pengayom yang bisa memberikan keteduhan dalam suasana sepanas apapun serta butuh sosok Negarawan yang peduli dengan nasib rakyat yang tidak anti kritik bersikap tegas terhadap hal-hal yang akan membawa kesengsaraan rakyat seperti korupsi dan kolusi.
Sebuah kekeliruan besar apabila pada tanggal 09 April nanti kita mencontreng politikus maupun partai yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat lapisan bawah, semoga masyarakat bisa memilih wakil-wakilnya dengan cerdas, dan jangan lupa dukung juga si Tukang Nggame dan kampanye damai pemilu Indonesia 2009.
Popularity: 27% [?]
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



Itulah kenyataan elit politik kita mas, kalau seperti itu kepada siapa kami menggantungkan harapan untuk memperbaiki negeri ini
Lha soyo cetho, jadilah partai yang santun, bukan partai penghujat …. jgn krn lidah tdk bertulang …
jadi nggak simpatik sama partai yang suka menghujat
pekanya pas mau kampanye saja
selanjutnya terserah anda
byme
iya, saya juga sepakat nih, asama pak sholeh. rakyat ndak butuh dengar elite politik yang saling lomba pidato dg mulut berbusa. tapi butuh keteladanan dan memiliki kepekaan terhadap nasib rakyat.
keren euy..q setuju ma pendapatnya byme..elit politik cm cari muka aj..
semuanya hanya memikirkan perutnya sendiri..
Sebagai rakyat, saya juga seperti apa yang dikatakan oleh Pak Sawali di atas, bahwa kami perlu keteladanan yang baik dari seorang pemimpin.
Bukan pemimpin yang pandai menghujat saudaranya, bukan pula pemimpin yang hanya pandai bermain sandiwara tonil bangsawan.
Yang comment di sini pasti sudah pernah merasakan yg 200.000 rupiah itu…
@marsudiyanto belum nih mas
waduuh sangat berharga itu, lah wong sehari bapak saya cuman dpt 25rebu
bukannya pro tokoh tsb, think out of the box: saya kira memang kurang mendidik untuk jangka panjang. walau pun merupakan solusi jangka pendek, harus dicari cara yang lebih elegan sehingga rakyat kita pun mengerti bahwa hal tsb tidak baik bagi dirinya dan negara. 50rb penuh lumpur dan peluh dari hasil bekerja, itu lebih ‘bernilai’ dari 200rb itu.
itu pendapat saya lho
postingan yang manis, baru kali ini saya melihat ada postingan yang begitu riil. cah soleh dapat menangkap ‘tekanan’ yg kini dihadapi oleh rakyat kecil macam kita2 ini.
andai aku punya award, tentulah postingan ini akan saya anugerahi sebuah apresiasi….dalam bentuk penghargaan abstract
Andai ada yang mau membeli suara saya, akan saya jual dengan harga Rp. 50.000,0
Sarimin diam!
sekarang saatnya qt mengasah hati nurani qt , biar lebih peka n “tajam” lagi
gitu ya pak
lha peka kok harus rapat dulu sebelum ngomong, wakaka…
kira2 siapa tuh yang ngomong?
pertama kali mampir nih,… salam knal dr newbie,..
Saya ndak kaget sama poli tikus yang begitu…. saya aja recehan tak kumpulin kok, jadinya dolar,heehehehheeee
bener juga yah… hm….
Salam hangat mas
Ahmad Maulana = Gelandangan Juga kok
ini lagi siap2 kembali ngeblog dengan blog yang sedikit agak formal mas (nama asli saya)
Maaf loh mas saya udah enggak pake gelandangan lagi nih
————————————————-
Mengenai Coment Postingan :
kemarin sempat juga nulis di politikana.com menganai biaya pesta demokrasi nanti yakni Rp. 210.000 per kepala rakyat indonesia mas. naiknya juga berkisar 1000% dibandingkan pesta demokrasi tahun 2004 kemarin banyangin aja mas 3,5M Anggaran Pemilu 2004 sedangkan anggaran pemilu 2009 37,9 M hulelelelelele
mudah-mudahan dengan anggaran segitu banyaknya menghasilkan pemimpin yang berkualitas……..ingat rakyat miskin… jangan hanya baek pada saat kampanye
harus diakui
kampanye politik kita masih SAKIT!
hampir semua SAKIT
hampir seluruhnya SAKIT
BLT PROGRAM PEMERINTAH, BUKAN PROGRAM PARPOL!
wlo demikian, dq tidak akan golput
mencari yang “terbaik”
wkwkkwk……..
Sebuah kekeliruan besar apabila pada tanggal 09 April nanti kita mencontreng politikus maupun partai yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat lapisan bawah
Betul, Mas. Namun ironisnya, dalam paruh waktu akhir-akhir ini, rasanya politikus-politikus itu seakan paham betul apa yang terjadi di masyarakat. Seakan tau betul yang dibutuhkan masyrakata. Dan seakan dekat betul dengan masyarakat. Itu kan tampak dari iklan-iklan yang berseliweran di sana-sini. Ck-ck-ck…