Fenomena kampanye menjelang Pemilu sering kali menjadikan Pendidikan sebagai isu utama, Kompas- Banyak politisi yang menjadikan pendidikan sebagai komoditas politik, seperti janji-janji memberikan pendidikan murah, bahkan gratis. Setelah politisi itu mendapat kedudukan politik, persoalan pendidikan diabaikan dan janji mereka soal pendidikan sulit ditagih. ”Jangankan menagih janji, bertemu dengan wakil rakyat untuk mengadu persoalan pendidikan saja sangat sulit,” ujar Koordinator Education Forum, Suparman, Jumat (27/2) di Jakarta. Padahal, dalam kampanye calon anggota legislatif maupun kepala daerah, pendidikan murah bahkan pendidikan gratis selalu menjadi isu utama.
Gara-gara kampanye para politisi yang sering mengatakan pendidikan gratis tersebut sehingga menjadikan image masyarakat bahwa pendidikan itu benar-benar gratis sehingga apabila ada seolah yang memungut dana atau iuran serta merta mereka protes, padahal kita semua tahu untuk membiayai jalannya pendidikan tidak sedikit biaya yang dikeluarkan, sehingga seringkali pihak sekolah hutang terlebih dahulu hanya sekedar untuk membiayainya. Kalaupun ada bantuan dana dari pemerintah seperti BOS dan lainnya itu turunnya tidak setiap bulan sementara biaya operasional Sekolah harus keluar tiap bulannya.
Para Politisi dan calon Kepala Daerah terkadang tidak memahami akar masalah yang sesungguhnya, seandainya dia tahu permasalahan pendidikan yang sesungguhnya maka akan berpikir dua kali untuk mengatakan sekolah murah ataupun gratis. Kalau kita piker secara logika mungkinkah sesuatu yang gratis akan menghasilkan sesuatu hasil yang yang berkualitas, jawabnya tentu saja jauh dari mungkin, untuk itu para politisi seharusnya mencari tahu dulu tentang seluk beluk dunia pendidikan sebelum gembar-gembor dalam kampanyenya tentang pendidikan Murah atupun gratis.
Related posts:
- Sekolah gratis antara Harapan dan Kenyataan Setelah hingar-bingar iklan partai politik hilang dari media cetak...
- Ternyata Benar, Dunia Ini Memang Panggung Sandiwara Dunia ini panggung sandiwara ceritanya mudah berubah, bisa maha bharata...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.


Pertamax *dua liter mang*
saya jadi teringat dua hari kemaren, seorang guru anak saya yang juga guru olahraga, meminta dgn sangat kepada saya untuk membawakan sekarton air aqua gelas utk di konsumsi anak2 yang tengah mengikuti komptesi futsal antar sd.. Beliau mengatakan kl sekarang tidak ada lagi dana utk kegiatan olahraga ini
akhirnya sy berikan dana ala kadarnya kepada beliau yg sy titipkan kpd anak barep saya (cukuplah utk membeli air minum aqua 2 karton dan makan siang para pemain)
inilah salah satu dampak dari ‘kampanye rano karno sebagai wakil bupati tangerang yg telah terpilih taun lalu* memang sekolah gratis, tp utk kelanggsungan hidup sklh tsb dimasa mendatang?? apa hanya mengharapkan bantuan dari pemerintah saja? Sy pikir tidak cukup itu!! Sementara bila sekolah memungut biaya ini itu, wali murid langsung mencak2! Dilema bukan??
Sistem pendidikan di negara kita memang akan menuju ke arah itu, masalah pembiayaan nanti akan ditanggung semua pemerintah. jadi siswa dilarang dipungut biaya sepeserpun.
Setuju masEdy tapi terlalu dini kalau para politisi gembar-gembor itu sekarang masalahnya infrastukturnya belum tersedia dengan baik jadi akibatnya seperti yang dialami mas Khay tersebut
Kenapa gak sekalian; bagi Ijazah Gratis tanpa sekolah. Janji Mercu Suar, terang benderang namun penuh jebakan karang mematikan di sekelilingnya yang siap memangsa kapten kapal yang lengah *gak nyambung yak?*
wah, sebuah psotingan yang menarik, pak sholeh. pendidikan gratis bisa saja dilakukan, asalkan pemerintah sudah sanggup memberikan subsidi yang cukup buat kepentingan dunia pendidikan. selama subsidi itu tak bisa dikucurkan, sekolah gratis hanya akan menjadi kelatahan dan slogan belaka.
ya itulah politisi – banyak benar alasannya
biaya pendidikan makin mahal dan anggota dpr dan pemerintah malah senang buang2 duit rakyat – alasannya …..studi banding
studi banding kok bawa2 istri
makanya jangan pilih politisi busuk
Alhamdulillah, dq pernah ngerasain 2 kali sekolah formal gratis …blasss