Akhir-akhir ini kita sering mendengar dan melihat lewat layar kaca kita tentang begitu banyaknya korban ledakan tabung gas elpiji hasil konversi minyak tanah ke gas yang di gulirkan pemerintah beberapa Tahun yang lalu. Ledakan-ledakan tabung gas itu tak ubahnya teror bom yang terjadi di masyarakat, korbannya justru rakyat kecil yang menjadi sasaran konversi minyak tanah ke gas elpiji.
Teror Ledakan Bom itu bernama Tabung gas elpiji 3,5 kg, entah sampai kapan pihak pemerintah peduli dengan yang terjadi di masyarakat dengan mengganti tabung gas yang kualitasnya lebih baik dan tidak berbahaya. Jangan sampai kasus yang terjadi menjadikan trauma bagi masyarakat sehingga menjadikan apatis tentang program-program yang akan digulirkan pemerintah di masa-masa yang akan datang.
Kita semua berharap Pemerintah bisa menerima dengan lapang dada atas beberapa masukan masyarakat yang berkaitan dengan tabung elpiji tersebut selanjutnya mengambil kebijakan yang cepat untuk menggantinya dengan kualitas yang baik dan aman bagi penggunanya. Daripada uang dihamburkan kepada sesuatu yang tidak jelas maka saatnya pihak terkait peduli kepada kepentingan masyarakat.

pas kampanye dulu.. dikoar-koarkan sebagai keberhasilan pak SBY dalam mengganti minyak tanah menjadi gas di dapur-dapur rakyat agar irit..
jebulnya….
kini pemerintah mulai merespon dari kejadian-kejadian yang diakibatkan tabung gas elpiji
Sebenarnya Abu merasa kebijakan mengkoversi gas itu benar, bangsa kita haus maju. Sayangnya pengadaan yang mengambil untung sebesar2nya malah membahayakan masyarakat. Betapa mereka rela menilep untung dengan membahayajan nyawa orang lain, betapa kejamnya. Oh negeriku, negeri cintaku
dan sekarang trend ledakannya sudah mulai melebar…tabung 12 Kg pun sudah mulai pada meledak juga…susah deh…di rumah sendiri saja merasa gak aman lagi…
memang sungguh menyedihkan kalau kebijakan konversi gas elpiji harus memakan korban rakyat yang tak berdosa. ironisnya, hingga saat ini tak ada pihak yang mau mengakui kesalahan secara terbuka kepada rakyat. penyakit lama dan kambuhan yang ndak sembuh2.
Pemerintah terkesan Lamban menangani kasus ini,bukti bahwa program konversi belum sepenuhnya berhasil
kebijakan yang dipaksakan. Beberapa hal yang saya ketahui : Kadang Pertamina mengeluarkan ijin kepada SPPBE sekenanya juga.
Tida semua rekanan pertamina bersih. Pengawasan hanya sampe agen resmi, sementara yang tidak resmi berkeliaran dan potensi kecurangan sangat tinggi.
Pengadaan tabung yang mudah ditiru sehingga beredar banyak tabung palsu.
Masyarakat masih awam terhadap kondisi ketika tabung mengalami masalah dan mengalami kesulitan untuk komplain.
Masalah lamban mengantisipasi, dan kurang tanggap saya pikir ini penyakit akut yang selalu menjangkiti negeri ini.
Trims Mas,
Salam.