Mengamati Tanah Kelahiranku

January 21st, 2010 by Achmad Sholeh Leave a reply »

Saya seringkali berpikir ketika melihat di sekeliling, kebetulan saya dilahirkan dari sebuah Dusun di daerah Grobogan, Jateng apabila saya mengamati sungguh perkembangan yang ada begitu lambatnya. Infrastruktur Jalan  yang tak kunjung membaik konon penyebabnya struktur tanah yang labil dan tingkat ekonomi masyarakatnya yang nyaris sama dari tahun ke tahun. Saya sempat berandai-andai kalau saja uang yang dicuri oleh pencuri berdasi seperti kasus century itu digunakan untuk membangun perekonomian di desa-desa pastilah lain ceritanya.

Masyarakat yang menyandarkan hidupnya di kampung sangat jelas terlihat stagnan dari segi ekonominya, tapi bagi sebagian yang mencoba peruntungannya di luar kampung halaman terlihat sedikit lebih mapan. Biasanya yang mencoba mengais rejeki di luar seperti menjadi TKI, merantau di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang dan lainnya, terlihat kehidupannya jauh lebih baik. Tapi hanya orang-orang tertentu saja yang berani berhijrah ke luar tanah kelahiran dan itu tidak lebih dari 20% nya.

Kondisi masyarakat yang agraris memang sangat tidak menguntungkan saat ini, karena disaat biaya bercocok tanam hampir impas dengan hasilnya, menjadikan masyarakat di Dusunku persis seperti yang di katakan Bang Haji Rhoma Irama dalam salah satu bait syair lagunya yaitu “ Gali Lobang Tutup Lobang”. Kalau ini terus-menerus terjadi maka yang namanya hidup sejahtera tetap hanya menjadi sebuah angan-angan dan impian.

Apa yang terjadi di daerah tempat saya rasanya cukup mewakili desa-desa di negeri ini, kami berharap pihak Penmerintah segera kembali berpikir untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Mereka miskin bukan karena malas, tapi disebabkan tidak adanya peluang dan kesempatan yang memadai untuk mensejahterakan dirinya. Bagaimana yang terjadi di tanah kelahiran anda tidak jauhkah perbedaannya?.

Advertisement

11 comments

  1. yayat38 says:

    setuju sekali Mas.Harapan yang sama tentunya kita ini bergantung pada pemerintah. Paling tidak memberikan perhatian kepada fasilitas seperti transportasi serta hal-hal yang vital sehingga masyarakat akan nyaman berusaha.
    Terima kasih artikelnya.
    Salam hangat selalu :)

  2. rojai82 says:

    yups … betul banget mas, seandainya saja dana century digunakan untuk membangun negeri demi kepentingan bersama, pastinya akan banyak orang yang merasa terbantu dan menikmatinya.

  3. wahyubmw says:

    Setuju atas tulisan mas sholeh, tapi ngomong2 habis pulang kampungkah ???

  4. guskar says:

    adanya aturan otonomi daerah mestinya pemerintah kabupaten akan bisa menggali, mengembangkan dan meningkatkan potensi daerah untuk kesejahteraan rakyat.
    entah salahnya di mana, otda malah membuat sebagian wilayah nggak berkembang bahkan mengalami kemunduran

  5. marsudiyanto says:

    Melu Inguk2 Kampunge Mas Sholeh…

  6. Pencerah says:

    Pergi kesana serasa naik kuda
    wakakaka

  7. niQue says:

    pastilah sama aja dengan daerah lain,
    tapi bisa bilang apa lagi?

  8. sauskecap says:

    siapa tau besok bisa sukses dan memajukan desanya…

  9. Kalo kita nunggu pemerintah saja, bisa jadi daerah kita akan terbengkalai.

    Lebih baik kita kerjakan, apa yang bisa kita kerjakan demi pembangunana daerah kita. Minimal setingkat RT dulu!

    Salam Brrrrr kenalan!

  10. Bung Eko says:

    Gak cuma di sana, Bung. Di tempat saya berada juga begitu. Makanya pada merantau ke Jakarta, tiap lebaran ada yg pulang dengan Pak Selamat, tapi ada juga yg jadi tumbal jalan bikinannya Belanda di Pantura.

    Ini masalah mind set. Kita selalu berharap orang lain yang mengubah kita, padahal kata al-Qur’an yang harus mengubah itu ya kita sendiri.

  11. Dewi Yana says:

    Assalamu’alaikum, kesejahteraan rakyat secara merata, sepertinya memang masih menjadi PR bagi Pemerintah kita untuk mewujudkannya, tapi kitapun harus turut berpartisipasi membantu mewujudkannya. InsyaAllah, kalau kita mulai bergerak melakukan sesuatu dilingkungan terdekat kita, (misalnya RT) maka hasil baik yg kita capai, bisa menjadi contoh bagi lingkungan lainnya. (Dewi Yana)

Leave a Reply