Sore itu Pak Purwa pulang dengan muka serius, kerutan di keningnya tampak kelihatan jelas meskipun umurnya belum begitu tua karena baru saja menginjak empat puluhan sebuah usia yang menunjukkan kematangan untuk ukuran laki-laki, sambil memarkir sepeda motornya di garasi rumah dengan langkah sedikit gontai dia memasuki ruang Tamu, dia letakkan tas kerjanya sedikit keras hingga istri tercintanya Mira kaget tak biasanya suami tercinta berbuat seperti itu ada apa gerangan pikirnya, ada apa pak kok kayaknya tidak seperti biasanya ada masalah apa dikantor tanya Bu Mira sambil membantu melepaskan dasi sang suami, pak Purwa hanya bisa menatap wajah Istrinya dan tak sanggup bicara apapun, tanpa melanjutkan pertanyaannya Bu Mira langsung menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat bagi suaminya.
Selesai mandi dan Sholat Mahgrib Pak Purwa menuju Ruang Makan di meja makan telah menunggu Bu Mira, Dian dan Anto kedua Putra-putrinya untuk makan malam bersama, Tidak ada menu istimewa seperti yang kita lihat di sinetron-sinetron yang ada hanyalah Sayur bening kesukaan Pak Purwa dengan ikan bandeng presto goreng kesukaan kedua anak dan istrinya ditambah sambel trasi dan sedikit lalapan, meskipun hanya dengan menu sederhana tapi rasanya seluruh anggota keluarga kecil tersebut cukup menikmati makan malam tersebut kecuali pak Purwa yang terasa kurang bergairah, setelah selesai makan malam tidak biasanya Bapak langsung masuk kamar biasanya berkumpul di Ruang keluarga sekaligus berfungsi sebagai ruang Tamu untuk menonton sinetron kesukaan keluarga itu, Bu Mira langsung menuju kamar menyusul suaminya dan di dalam kamar pak Purwa telah merebahkan badannya sambil tatapannya kosong memandang langit-langit kamar, pak ada apa ? sapa bu Mira mengawali pembicaraan, anu…anu bu tadi siang saya di panggil Pak Bias manager saya saya diberitahu kalau saya masuk daftar orang yang akan kena pensiun dini, kata pak Purwa datar, Ohhhh… terdengar suara Bu Mira dan hanya itu yang keluar dari bibir mungilnya, yah bibir mungil yang dulu membuatnya menjadi kembang desa yang banyak bikin GR pemuda di desanya ketika mendapat senyumannya, sedikit kisah sebelum sang kembang desa menjadi Istri Pemuda bersahaja yang tak lain adalah pak Purwa .
Badai krisis global yang melanda dunia, ternyata tidak hanya melanda Negara besar dan maju seperti Amerika dan Negara-negara Eropa tapi ikut juga dirasakan di perusahaan di mana Suami Bu Mira bekerja padahal sebenarnya perusahaan pak Purwa tidak berhubungan langsung dengan ekspor karena pak Purwa bekerja di sebuah perusahaan distributor alat-alat kesehatan dan posisi jabatannya adalah seorang supervisor yang membawahi sepuluh orang tenaga marketing, hanya karena bahan baku memang sebagian besar masih impor dengan adanya krisis global membuat harga membumbung tinggi di satu sisi di sisi yang lain Kebijakan Pemerintah yang bekerja sama dengan perusahaan BUMN untuk produk sejenis dengan yang dipasarkan Perusahaan dimana pak Purwa bekerja sehingga sedikit menutup langkah perusahaan swasta tempat pak Purwa Bernaung . BERSAMBUNG….
saya ijin pertamax dulu, wah berrti tua sebelum umur dunt berkerut meski msh 40-an hehe
berkunjung n ditunggu kunjungan balik
keduaxxxxxxxx
lam kenal dulu
happy blogging
Ngamanin Ketigax dulu…
Ditunggu sambungannya looo…
wah ditunggu kisah selanjutnya… hidup pak purwa..
wah masih bersambung MAs, saya tunggu saja sambungannya, trims atas artikelnya yang menarik
Ya…. bersambung!
Jangan lama-lama sambungannya ya mas!!
Ceritanya mengerikan ya mas, sambungan besok pasti lebih kelimax
pak purwa, terima saja tawaran pensiun dini itu. mumpung uu 13/2003 msh diberlakukan
Salam kenal dulu ya mas, blognya bagus nih. (Eny – Semarang)
Berkunjung. Ikutan baca2…
Mohon masukannya tulisanku hari ini di blogku ini mas. PENTING
wah, rencananya menjadi kisah berseri, ya, pak. awal ceritanya sdh bikin penasaran, pak. jadi pingin tahu bagaimana cara pak purwa menghadapi ancaman pensiun dini yang menimpanya. lanjutkan, pak, hehe ..
Baca kisah yang ini dulu trus baca yang selanjutnya.Kisahnya menarik dan membuat hati ini berdebar2