Prahara di Bulan Januari ( Dua )

February 2nd, 2010 by Achmad Sholeh Leave a reply »

Meskipun pagi itu cukup cerah namun tidak seperti biasanya pak Purwa melangkahkan kakinya untuk berangkat kerja sedikit agak malas-malasan karena telah terbayang di benaknya apa yang nantinya akan ditemuinya di kantor, matanya sedikit kelihatan merah pertanda kurang tidur, apalagi penyebabnya kalau bukan karena kegelisahan yang sedang menyelimuti hati, karena perbincangannya dengan Atasannya kemarin tentang opsi pensiun dini.

Sebenarnya opsi pensiun dini jauh lebih baik kalau itu ditawarkan kepada orang-orang yang mempunyai jiwa wiraswasta, tapi lain bagi pak Purwa karena dia adalah tipe orang yang loyal dan konsisten terhadap pekerjaannya sebab dia berpikir ketika seseorang total dalam pekerjaannya maka dia akan maksimal dalam hasil, tapi nasib berkata lain perusahaan memang sedang kolaps dan harus merampingkan karyawannya untuk tetap bertahan.

Meskipun berat sebagai kepala keluarga harus mengambil keputusan, semalam dia sudah berdiskusi panjang lebar dengan istrinya tentang keputusan yang akan diambilnya apabila dia dipanggil atasannya pagi ini. Dengan langkah sedikit gontai dia memasuki Ruangan manager personalia Ibu Diana, Seorang yang masih muda enerjik dan wajahnyapun cukup manis yang pada hari-hari biasa sering menjadi bahan perbincangan lelaki setengah baya seperti pak Purwa, tapi hari itu di mata pak Purwa sosok Ibu Diana yang masih muda, cantik dan anggun tidak lagi menarik perhatiannya karena yang ada dalam pikiran pak Purwa hanyalah bayangan-bayangan apa yang akan dia kerjakan setelah keputusannya pagi ini.

Pagi Bu diana… sapa pak Purwa, pagi pak jawab bu Diana sambil mempersilahkan duduk, gimana pak sudah mengambil keputusan? Sebuah Pertanyaan tanpa basa-basi dari orang yang selama ini dia kagumi yaitu Ibu personalia yang cantik, dengan menarik napas cukup panjang pak Purwa menata hati dan pikirannya untuk mengambil keputusan bagi diri dan keluarganya. Sebuah keputusan yang mau tidak mau harus dilakukan, pada saat seperti itu bayangannya terlintas pada dua Tahun yang lalu di mana dia harus merekomendasikan tiga orang tenaga marketingnya dengan alasan sudah dua tahun tidak bisa memenuhi target yang di tetapkan perusahaan. Saat ini dia baru merasakan apa yang dialami dua Salesmannya dua tahun yang lalu.

Iya Bu Diana saya memilih opsi pensiun dini, kata pak memecah keheningan di pagi itu, Oke Pak Purwa silahkan pelajari hitung-hitungan psangon Bapak , ucap Bu Diana sambil menyerahkan selembar kertas, ini hitungan pesangon menurut kemampuan perusahaan dan saya rasa ini sudah sesuai dengan hitungan Depnaker, Suara Bu Diana menjelaskan, Ya Bu saya akan coba pelajari dulu, jawab pak Purwa yang tanpa banyak bicara dan langsung meninggalkan ruang personalia.

Setelah sejenak meihat isi kertas hitungan pesangon pak Purwa bermaksud pergi sebentar untuk meniggalkan kantor di mana dia bekerja, dengan berpamitan kepada manager pemasaran yang selama ini menjadi atasannya yaitu pak alex. Dengan mengndarai motornya ia menuju ke kantor Depnaker dengan maksud mencocokan kebenaran omongan Bu Diana tentang hitungan pesangon yang aan diterimanya kepada pihak Depnaker, dan ternyata sama persis dengan hitungan pihak depnaker.

Dengan mantap akhirnya pak Purwa memutuskan menerima opsi pensiun dini dari perusahaan yang telah dia gunakan menggantungkan hidupnya bersama keluarganya selama 20 Tahun, dia belum tahu persis langkah apa yang akan dia ambil dengan bekal pesangon dari perusahaan tersebut.

Setiap keputusan pastilah ada konskwensi yang akan diambil, termasuk keputusan pensiun dini yang diambil pak Purwa, meski merasa canggung sebagai sosok ayah dan suami dia harus bersikap tegar, meski belum tahu apa yang akan dilakukannya setelah benar-benar dia pensiun dari pekerjaannya. Saya bermaksud untuk meminta Tolong kepada sahabat semua dengan mengasih masukan ke pak Purwa yang lagi di persimpangan untuk melalui jalan hidup selanjutnya .

Popularity: 11% [?]

Related posts:

  1. Prahara di Bulan Januari ( Satu ) Sore itu Pak Purwa pulang dengan muka serius, kerutan di...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Advertisement

9 comments

  1. Alhejawi says:

    Semua masalah ada solusinya, tinggal bagaimana kita mengatasinya. Tak perlu putus asa hanya karena sebuah kegagalan, namun anggaplah kegagalan itu sebagai sebuah kesuksesan yang tertunda. Dipecat dari kerjaan..??? masih banyak kok kerjaan lainnya

  2. wiyono says:

    kunjungan malam hari… ingin minta follownya dari sobat blogger yang sudah top ini… terimakasih atas partisipasinya.. biar gak paki L silahkan program 1001 komentar, berprtisipasilah

  3. wah, akhirnya pak purwa lebih memilih pensiun dini. andai saja dia punya blog pasti bisa menjadi salah satu alterantif pengganti pekerjaannya, pak. kan bisa dimonetisasi agar bisa menghasilkan duwit, hehe …. semoga endingnya bagus buat pak purwa sdan keluarganya.

  4. guskar says:

    dari pesangon yg didapat, sisihkan sebesar 3 bulan gaji utk cadangan hidup, masukkan ke tabungan.
    utk usia pak purwo sngt sulit mencari kerja kantoran lagi, maka lbh baik belajar berwiraswasta atau join ke teman yg sdh berhasil dalam usahanya.

  5. Wandi thok says:

    Kalawo menurut saya ya mas, usulan buat pak Purwa, karena usianya sudah mulai udzur, di waktu pensiun ini cobalah lebih mendekatkan diri kepada Alloh dengan memperbanyak sodaqoh, misalkan mengurusi anyak yatim piatu. Mingsih banyak kok mas anyak yatim/miskin nyang membutuhken. Kalawo boleh usul lagi, boleh tu pak Purwo jadi orang tua asuh. :lol:

  6. Salam super-
    Salam hangat dari pulau Bali-
    menarik sekali artikel anda…
    saya akan coba memahami lebih lanjut..
    sukses untuk Anda…
    semangat ya…

  7. Assalamualaikum.wr.wb. Slmt Malam. Salam dari Yanti sekeluarga. Semoga pemilik blog ini dan seluruh narablog yang hadir selalu dalam lindunganNya dan sukses menyertainya.Tabik

  8. kisah pak purwa bisa dijadikan tamsilan untuk kita semua bahwa kita perlu memikirkan hari tua…

  9. arkasala says:

    Banyak yang pensiunan berhasil dengan melangkah usaha sendiri, mungkin Pak Purwa perlu berfikir ke arah sana.
    Trims Mas.
    Salam

Leave a Reply